REFKY FIELNADA

REFKY FIELNANDA

MAHASISWA EKONOMI ISLAM

Kamis, 09 Juni 2011

KETIKA SANG BUNDA (KEMBALI) BERTANYA

Hari masih pagi, ketika Asma menerima telpon dari sang Bunda. Sejenak diletakkannya sapu lidi yang tadi digunakan menyapu halaman. Disekanya keringat yang mengalir disudut-sudut wajah. Seperti biasa, dengan penuh takzim disapanya sang Bunda. “Apa kabar Bun? Tak biasanya nelpon pagi-pagi begini”, tanyanya dengan ceria.
“Ahh... tadi malam bunda bermimpi sakit parah. Bunda berpikir kalau-kalau itu pertanda dari Allah bahwa umur bunda tak lama lagi...”, suara Bunda terdengar lemas di seberang sana. “Jangan terlalu dipikirkan Bun, namanya juga mimpi. Makanya sebelum tidur Bun minta sama Allah supaya mimpi ketemu saya saja...”, Asma berusaha menghibur hati Bunda. “Nak... kapan lagi kau akan menikah...? Ingat umur nak.... Lagi pula, Bunda ingin melihatmu menikah sebelum....”, Bunda terisak, tak mampu menyelesaikan kalimatnya. Sungguh, entah untuk keberapa kalinya Bunda bertanya seperti itu pada Asma. Tapi kali ini, pertanyaan Bunda semakin membuat iba hati karena dilengkapi dengan tangis dan kisah kematian. Ini penggalan kisah lainnya dari hidup seorang muslimah yang menurut kebiasaan setempat tergolong lambat menikah.
Jika berada dalam posisi seperti ini, apa yang harus kita lakukan? Jawaban apa yang harus kita berikan pada sang Bunda? Kalau ditanya tentang keinginan menikah, perempuan normal mana yang tak ingin menikah? Apalagi kalau menikahnya dengan lelaki sholeh yang tampan, cerdas, kaya dan dari keluarga terhormat. Paket komplit lah! Tapi toh, yang namanya jodoh ada di tangan Allah. Tak bisa diprediksi! Kita manusia hanya disuruh berusaha optimal, tentu dengan niat dan cara yang baik. Jika usaha mencari jodoh ini dilakukan dengan niat dan cara yang benar, insya Allah akan berkah dan bernilai ibadah. Namun jika sebaliknya, justru akan menjadi dosa dan mendatangkan azab Allah. Na’udzubillah!
Lumrah, bahkan sangat naluriah. Setiap Bunda pasti menginginkan kebahagiaan untuk anaknya. Setiap Bunda pastinya berharap melihat anak perempuannya menikah dengan seorang lelaki yang bisa menjadi imam dunia-akhirat. Sebenarnya, ini adalah bagian dari naluri ke-ibu-an sang Bunda yang selalu ingin melindungi “gadis kecilnya”. Ya, dimata sang Bunda, kita selalu menjadi anak kecil yang butuh belai kasih serta bantuannya. Lihat saja bagaimana sang Bunda rela membuatkan masakan kesukaan kita di usia senjanya, atau sekedar memijat kepala kita yang sakit, padahal kita adalah seorang perempuan dewasa yang mampu berbuat banyak hal di belakang Bunda.
Maka pahamilah bahwa pertanyaan Bunda itu hanyalah luapan khawatirnya akan kebahagiaan dan kenyamanan kita. Ketika bunda bertanya, sikapilah dengan wajar dan bahagia. Sama seperti kita bahagia ketika sang Bunda mengingatkan kita untuk makan, istirahat, atau beli baju lebaran saat kecil. Bersukurlah Allah masih beri kesempatan kita punya sang Bunda yang selalu menemani tiap fase hidup ini. Senyumlah dengan tulus pada Bunda. Jika dekat dengannya, sering-seringlah mencium tangan dan pipinya, serta “bergelayut” di pundaknya yang mungkin mulai renta. Jika jauh, sering-seringlah mengucapkan bahasa cinta padanya.
Sekali lagi, adalah sangat wajar jika sang Bunda selalu bertanya. Lalu, mesti jawab apa? Sebelum memikirkan jawaban yang baik untuk sang Bunda, ada hal yang harus kita lakukan yaitu berusahalah mendapat jodoh yang baik. Status sebagai perempuan tak berarti kita tidak berusaha menemukan sang jodoh idaman sesuai kriteria kita. Tampaknya, kita memang harus lebih banyak beribrah kembali pada kisah-kisah wanita sholehah terdahulu. Ingatlah bagaimana ibunda Khadijah berusaha menemukan jodohnya melalui bantuan sang utusan yang menemui Rasulullah. Bahkan, sebelumnya Khadijah telah pula menguji keluhuran akhlak dan kepiawaian pribadi Rasulullah sebelum memutuskan mengirim utusan. Sebagai uji coba, perniagaan besar Khadijah dipercayakan pada pemuda al-amin, Muhammad SAW. Itulah yang dilakukan Khadijah hingga memperoleh posisi istimewa di hati Rasulullah SAW. Hingga sepeninggal beliau pun, Rasulullah masih selalu menyebutnya hingga Aisyah pun cemburu. Karena memang Khadijah bukan sembarang perempuan.
Ingat pula bagaimana Umar bin Khattab berusaha menemukan suami terbaik bagi Hafshah anaknya. Umar pergi menemui sahabat-sahabat kenamaan yang kemudian menolak permintaan Umar agar mereka menikahi anaknya. Sebagai orang tua, Umar berusaha memberikan yang terbaik bagi putrinya. Dan ternyata, tempat Hafshah adalah di sisi Rasulullah. Lengkap sudah!
Ingat pula bagaimana seorang gadis desa di Kufah berusaha menemukan jodoh terbaiknya dengan menghiasai diri dengan segala keutamaan akhlak dan kekuatan ibadah. Hingga sang ayah mengatakan bahwa anak gadisnya adalah buta, tuli, bisu dan lumpuh ketika meminta seorang pemuda menikahi si gadis. Pemuda itu adalah seorang musafir yang datang mengakui salah dan meminta izin karena terlanjur memakan buah dari kebun mereka tanpa izin. Benar-benar penyeleksian kekuatan iman dan kematangan azzam, bagi calon suami. Akhirnya Allah nikahkan wanita terjaga itu dengan seorang lelaki sholeh, Tsabit bin Ibrahim. Dari pernikahan mereka lahir ulama besar Imam Abu Hanifah. Subhanallah...!
Bercermin dari kisah-kisah tersebut, maka seorang perempuan harus berusaha menemukan jodohnya. Tak boleh hanya berlindung dibalik dalil “jodoh di tangan Allah, kalaulah jodoh tak kan kemana”. Maka, “kejarlah” jodohmu wahai para perempuan. Tapi bukan “kejar-kejaran” yang tak tentu arah dan tak peduli aral melintang, seperti syair-syair pujangga cinta. Kejarlah dalam jalan yang benar, diantaranya:
v     Luruskan niat: menikah untuk ibadah,mengikut sunnah Rasulullah.
v     Tingkatkan kualitas diri: perbanyak ibadah, perbaiki akhlak, pelihara fisik serta perluas ilmu  dan wawasan.
v     Luaskan pergaulan dengan pergaulan yang baik.
v     Mintalah bantuan orang tua, guru atau orang-orang terpercaya untuk mencarikan pasangan yang baik.
v     Perbanyak do’a dalam bingkai khauf dan raja’.
Itulah diantara usaha menemukan jodoh yang baik. Maka berusahalah dengan segala cara yang baik. Berusaha dan teruslah berusaha, tanpa pernah lelah atau putus asa. Jika sudah berusaha, maka hasilnya adalah hak Allah. Pada titik ini, berlakulah yang namanya takdir. Allah Maha Tahu apa yang terbaik bagi hambaNya. Baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah. Demikian pula sebaliknya. Hanya Allah yang tahu, kapan masanya dan siapa jodoh terbaik bagi kita. Kalaupun agak lambat menikah, toh masih banyak jalan lain beribadah menuju syurga. Inilah pentingnya niat yang lurus itu. Berusaha adalah wilayah kerja kita, sedangkan penentuan hasil adalah hak mutlak Allah Sang Pencipta. Ikuti saja aturan mainnya dengan gembira!
Jangan lupa, beri tahu sang Bunda tentang segala usaha kita. Biarkan Bunda tahu, bahwa kita tidak sedang berpasrah saja. Jangan sungkan sesekali “menggoda” sang Bunda, menagih dicarikan jodoh yang baik. Toh, sang Bunda pastinya sudah lebih berpengalaman... Tentunya bagian kalimat “jodoh yang baik” itu harus diberi penekanan. Berusahalah  membangun komunikasi dialogis yang harmonis-romantis dengan orang tua tentang masa-masa penantian ini. Sebab, baik kita maupun orang tua, sama-sama butuh saling menguatkan untuk tetap yakin dengan keMaha-Pengasihan Allah SWT. Keberhasilan dalam tahap ini akan memudahkan kita menjawab ketika sang Bunda (kembali) bertanya.
Jika sang Bunda (kembali)  bertanya, marilah kita merajut serangkai kata untuk menentramkannya. Tiap kita tentu lebih tahu, kalimat seperti apa yang Bunda kita lebih sukai. Di samping bahasa verbal, ada jalinan hati yang sangat kuat antara kita dan sang Bunda. Maka sebenarnya, sebelum serangkai kata terucap, hati kita harus lebih dahulu bicara pada sang Bunda. Biarkan hati Bunda menangkap sinyal keyakinan dan ketentraman hati kita terhadap takdir Allah. Jika hati kita pun gundah dan tentu arah, maka jangan berharap Bunda bisa tentram hatinya.
Jika sang Bunda (kembali)  bertanya, bicaralah melalui hati dan lisan kita. Berikan sang Bunda kalimat-kalimat ceria, optimis dan penuh keyakinan pada kemurahan Allah SWT. Jangan beri celah untuk Bunda khawatir, apalagi sampai mempertanyakan takdir. Bicaralah dengan lembut dan penuh kasih. Meski sang Bunda (kembali) bertanya setiap harinya. Jangan pernah bosan, apalagi jengkel padanya. Bersykurlah. Insya Allah, kedewasaan kita menyikapi pertanyaan demi pertanyaan Bunda, akan membantunya untuk lebih sabar dan tawakkal. Sang Bunda tak kan kalah dengan kesabaran dan ketawakkalan anaknya. Toh, sang Bunda jualah yang turut mengajarkan kita tuk sabar dan tawakkal.
Jika sang Bunda (kembali)  bertanya, bahagialah atas kasih sayangnya. Jika sang Bunda (kembali)  bertanya, bersyukurlah masih diberi kesempatan diperhatikannya. Jika sang Bunda (kembali)  bertanya, jawablah dengan baik dan ikhlas. Jika sang Bunda (kembali)  bertanya, tetaplah sabar dan istiqomah. Panjatkan saja do’a setiap waktu, mohon kemurahan dan petunjuk Allah SWT. Yakinlah, Allah Maha Mendengar setiap pinta hambaNya. Wallahu a’lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About